๐ธ Coklat yang Tak Manis: Menafsir Lirik Lagu “Coklat” dari Pure Saturday
๐งฉ Menafsir Lirik “Coklat”: Simbol, Kritik, dan Ketegangan
Di tengah riuhnya musik pop komersial era 90-an, sebuah lagu dari band indie asal Bandung muncul dengan lirik yang tak biasa—tajam, simbolik, dan penuh kritik sosial. Lagu itu berjudul
“Coklat”, dibawakan oleh
Pure Saturday, band yang dikenal sebagai pelopor
skena musik independen Indonesia. Namun, “Coklat” bukan sekadar lagu. Ia adalah refleksi, perlawanan, dan
narasi alternatif yang menyuarakan keresahan generasi muda terhadap institusi yang seharusnya melindungi. Lirik lagu “Coklat” tidak menyajikan narasi linear. Ia bermain dengan metafora yang menggugah:
“Coklat berlari bagai babi, kejar penghuni / Injak perangkap masuk lumpur, jadi lagi...”
“Coklat dimakan malah melawan / Pupus harapan...”
Lirik ini menyimpan kritik terhadap institusi berseragam cokelat—kemungkinan besar Polri—yang dianggap represif. Metafora “babi” dan “lumpur” menggambarkan perilaku destruktif dan siklus kekuasaan yang korup. Lirik ini menggambarkan bagaimana harapan terhadap institusi berubah menjadi kekecewaan, bahkan perlawanan.
๐ Kritik Sosial dalam Nada Minor
Alih-alih menyampaikan kritik secara frontal, Pure Saturday memilih jalur seni dan simbol. Ini adalah bentuk komunikasi publik yang cerdas: menyentuh emosi, menghindari sensor, namun tetap menyampaikan pesan. Lagu ini menjadi arsip emosional dari generasi yang menyaksikan ketimpangan, namun tak punya ruang untuk bersuara.
๐งญ Relevansi Hari Ini
Meski dirilis hampir tiga dekade lalu, “Coklat” tetap relevan. Ia mengajak kita bertanya: apakah institusi yang dulu dikritik sudah berubah? Apakah suara-suara dari ruang alternatif seperti musik indie masih punya tempat dalam wacana publik?
๐ Musik Sebagai Arsip Sosial
Pure Saturday tidak memilih jalur provokatif. Mereka menyampaikan kritik lewat estetika musik, menjadikan lagu sebagai arsip emosional dan narasi alternatif. “Coklat” adalah bentuk advokasi yang halus namun menggugah.
๐ง Sejarah Terbentuknya Pure Saturday: Gudang Cokelat dan Spirit Indie
Pure Saturday lahir di Bandung pada tahun 1994, berawal dari keisengan lima anak muda yang sedang menunggu hasil UMPTN. Pure Saturday lahir dari semangat komunitas, bukan industri. Mereka berlatih di sebuah tempat yang dikenal sebagai Gudang Cokelat, sebuah ruang penuh serutan kayu dan debu, namun kaya akan kreativitas. Nama tempat itu kemudian menjadi inspirasi judul lagu dan album mereka. “Coklat” bukan hanya warna, tapi simbol akar perjuangan, ruang tumbuh, dan identitas independen. Nama “Pure Saturday” dipilih karena hari Sabtu adalah waktu rutin mereka berkumpul dan bermusik dari pagi hingga dini hari.
Mereka adalah:
Awal (1994–1999) -- Suar (vokal), Adhi (gitar), Udhi (drum), Ade (bass), Arief (gitar)
- Terkini (2025) -- Satria NB (vokal), Ade Purnama (bass, vokal), Arief Hamdani (gitar), Rika Faizal Rezza (additional gitar), Sony Mulyana (drum)
Suar hengkang pada 2004 karena urusan keluarga dan bisnis. Posisi vokalis kemudian diisi oleh
Satria NB, yang sebelumnya adalah manajer band.
๐ฟ Diskografi Lengkap Pure Saturday
Selain album, mereka juga merilis single seperti “
Fleeting Away” (2025) dan “
Love Divine” (2025), yang mengusung tema spiritual dan reflektif.
๐ Catatan Kaki- Pure Saturday – “Cokelat”. Album Utopia. FFWD Records, 2005.
- Ripple Magazine. Wawancara dengan Pure Saturday, edisi Mei 2006.
- Jakartabeat.net.. Artikel “Bandung dan Musik Indie: Jejak Pure Saturday”, diakses 3 Agustus 2025.
- Discogs.com.. Diskografi Pure Saturday – https://www.discogs.com/artist/Pure-Saturday, diakses 3 Agustus 2025.
- Blog pribadi penulis. Coklat yang Tak Manis: Menafsir Lirik Lagu “Coklat” dari Pure Saturday – https://yossysetiawan.blogspot.com, diakses 3 Agustus 2025.
✍️ Penutup: Dari Coklat yang Menggugah ke Panggung Sejarah
Pure Saturday bukan hanya band. Mereka adalah narator zaman, pelopor musik independen, dan penjaga suara-suara yang tak terdengar. “Coklat” adalah pengingat bahwa kritik bisa disampaikan dengan elegan, dan musik bisa menjadi medium perubahan.
Lagu favorit saya adalah “Cokelat” dan “Kosong”. Di zaman saya masih kuliah dulu, dua lagu ini kerap menjadi penyemangat hidup saya—bukan karena liriknya, tapi karena aransemen musiknya yang benar-benar luar biasa. Bagi saya, itu adalah salah satu pencapaian musikal terbaik yang pernah diciptakan oleh Pure Saturday. Ada kekuatan yang tak terucapkan dalam progresi chord, dinamika, dan atmosfer yang mereka bangun—seolah musiknya berbicara langsung ke jiwa, tanpa perlu kata-kata.
Like dan share artikel ini ke semua media sosial kalian jika dirasa bermanfaat. Follow juga laman Blog ini agar tidak ketinggalan artikel terbaru dari ysscorner.blogspot.com dan kunjungi juga blvckkarko.blogspot.com jika kalian tertarik informasi seputar otomotif. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Adios permios.. Coklat berlari bagai babi....