Artikel Terbaru

Satu-satunya Deal Breaker Saat Akan Meminang Infinix Smart 10 Plus

Satu-satunya Deal Breaker Saat Akan Meminang Infinix Smart 10 Plus


๐Ÿ“Œ Prolog

Infinix kembali menghadirkan seri terbaru di lini entry-level dengan Infinix Smart 10 Plus. Smartphone ini menawarkan sejumlah fitur yang jarang ditemui di kelas harga Rp1 jutaan, seperti layar 120Hz, baterai jumbo 6.000 mAh, NFC, dan sertifikasi IP64. Sekilas, perangkat ini tampak seperti pilihan sempurna bagi pengguna yang mencari ponsel murah dengan fitur premium. Namun, ada satu hal yang bisa menjadi deal breaker bagi sebagian pengguna. Temukan jawabannya di artikel ini dan berharap Transsion Holding (Infinix) mau mendengarkan suara konsumen seperti saya ini yang masih membutuhkan fitur tersebut.

๐Ÿ“Œ Pengalaman Penggunaan (User Experience) Selama 2 Minggu

Selama kurang lebih dua minggu menggunakan Infinix Smart 10 Plus, saya bisa bilang cukup puas dengan performa harian yang ditawarkan. Untuk aktivitas standar seperti membuka aplikasi, multitasking ringan, hingga edit video pendek (1–3 menit), semuanya berjalan lancar tanpa terasa lag. Scroll-scroll di media sosial juga mulus, dan menurut keyakinan saya (meminjam istilah Panji Pragiwaksono yang lagi viral), hal ini berkat dukungan refresh rate layar 120Hz. Meski hanya ditenagai chipset entry-level UNISOC T7250 dengan fabrikasi 12nm dan GPU Mali-G57 MP1, pengalaman saya pribadi masih tergolong fine-fine saja. Multitasking oke, gaming tipis-tipis hingga kompetitif pun masih bisa diandalkan.

Contohnya, saat main Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) sampai tiga kali push rank, bahkan ketika war ramai sekalipun tidak ada lag berarti. Suhu bodi hanya terasa hangat, tidak sampai “demam”, bahkan ketika saya sambil melakukan recording gameplay. Jadi kesimpulan sementara, menurut keyakinan saya, UNISOC T7250 bukan chipset kentang.

๐Ÿ”‹ Baterai & Pengisian Daya

Kapasitas baterai 6.000 mAh terasa awet. Memang dari 100% ke 90% agak cepat turunnya, tapi setelah itu konsumsi lebih stabil. Dengan pola pemakaian saya (main game lebih dari 2 jam sehari, ditambah nonton YouTube dan scroll sosmed cukup sering karena masih libur lebaran), baterai bisa bertahan sekitar 1¼ hari sebelum menyentuh 15%.

Untuk pengisian daya, meski hanya mendukung fast charging 18W, saya tidak menganggapnya sebagai kekurangan besar. Dengan charger Uneed UCH425 (output 20W), baterai bisa terisi dari 10% ke 100% dalam waktu kurang dari 2 jam. Mengingat kapasitasnya yang jumbo, ini cukup impresif.

๐Ÿ“ฑ Desain & Kenyamanan

Bobotnya menurut saya pas—tidak terlalu ringan sehingga tetap terasa mantap digenggam lama. Sensor fingerprint bekerja cepat dan akurat, ditambah fitur double tap to wake yang membuat tombol power lebih awet. Speaker stereo atas-bawah juga cukup oke, meski fitur Ultra Volume 300% belum saya coba (karena telinga saya masih normal, audzubillah).

๐ŸŒž Layar & Multimedia

Kualitas layar di bawah terik matahari masih cukup nyaman dilihat. Untuk multimedia, pengalaman menonton video dan mendengarkan musik terasa menyenangkan berkat dukungan stereo speaker. RAM bawaan 8 GB juga terasa lega, aplikasi jarang reload. Saat editing video dengan PowerDirector sempat muncul peringatan memori tidak cukup, tapi setelah mengaktifkan Extended RAM hingga total 16 GB, masalah itu hilang.

๐Ÿ“ท Kamera & Video

Sektor fotografi memang bukan keunggulan utama. Kamera hanya 8 MP, jadi jangan berharap hasil setara dengan kompetitor yang sudah 50 MP. Namun, untuk dokumentasi tipis-tipis atau video pendek masih bisa diandalkan. Menariknya, kamera mendukung perekaman hingga 2K dan bisa merekam dengan kamera depan-belakang secara bersamaan—cukup berguna untuk vlogging atau review singkat. Kalau punya gimbal, fitur ini akan lebih maksimal karena tidak ada EIS/OIS bawaan.

๐Ÿ”‘ Spesifikasi Utama

Chipset: UNISOC T7250 (Octa-core: 2x Cortex-A75 + 6x Cortex-A55)
GPU: Mali-G57 MC1
RAM/ROM: Hingga 8 GB Extended RAM + 128 GB Storage
Layar: 6,67 inci HD+ (720 x 1600), refresh rate 120 Hz, kecerahan 700 nit
Baterai: 6.000 mAh dengan pengisian 18W
Kamera: Belakang 8 MP, depan 8 MP
Fitur tambahan: NFC, IP64 tahan debu & cipratan air, Dual Speaker Ultra Volume 300%, Dynamic Bar ala iPhone, AI Folax Assistant
OS: Android 15 dengan XOS 15.1

๐Ÿ‘ Kelebihan

Baterai jumbo 6.000 mAh → daya tahan seharian penuh.
Layar 120 Hz → pengalaman scrolling lebih mulus.
NFC tersedia → memudahkan cek/isi saldo e-money.
Sertifikasi IP64 → ketahanan ekstra terhadap cipratan air dan debu.
Dynamic Bar & AI Folax Assistant → fitur unik yang jarang ada di kelas entry-level.

๐Ÿ‘Ž Kekurangan

Resolusi layar masih HD+, belum Full HD.
Kamera hanya 8 MP, kalah dibanding kompetitor yang sudah 50 MP.
Pengisian daya 18W terasa lambat untuk kapasitas baterai besar.
Performa gaming terbatas, cocok hanya untuk game ringan.

❌ Deal Breaker: Hilangnya Fitur OTG

Inilah kekurangan fatal yang bisa membuat sebagian pengguna berpikir ulang. Infinix Smart 10 Plus tidak mendukung USB OTG (On-The-Go). Padahal, di seri sebelumnya seperti Infinix Smart 8 Basic, fitur OTG masih tersedia. Bagi pengguna yang terbiasa memindahkan data langsung dari flashdisk, kamera, atau perangkat lain ke smartphone, absennya OTG jelas menjadi hambatan besar.

๐Ÿ“Œ Dampak Hilangnya OTG:

Tidak bisa transfer file langsung dari flashdisk ke HP.
Workflow dokumentasi dan arsip menjadi kurang praktis.
Pengguna dipaksa bergantung pada cloud, Bluetooth, atau kabel data ke PC/laptop.

๐Ÿ“Š Perbandingan dengan Kompetitor

Infinix Smart 10 Plus
Chipset: UNISOC T7250
Layar: 6,67" HD+, 120 Hz
Kamera Utama: 8 MP
Baterai: 6.000 mAh, 18W
Fitur tambahan: NFC, IP64, Dynamic Bar
USB OTG: Tidak ada

Redmi 13C
Chipset: Helio G85
Layar: 6,6" FHD+, 90 Hz
Kamera Utama: 50 MP
Baterai: 5.000 mAh, 18W
Fitur tambahan: NFC opsional
USB OTG: Ada

๐Ÿ“ Kesimpulan

Secara keseluruhan, Infinix Smart 10 Plus memberikan pengalaman harian yang memuaskan di kelas Rp1 jutaan. Performa entry-levelnya cukup bandel, baterai tahan lama, layar 120Hz mulus, dan fitur tambahan seperti NFC, IP64, serta Dynamic Bar membuatnya terasa premium.

Namun, saya tetap menekankan kembali satu kekurangan fatal: hilangnya dukungan USB OTG. Bagi saya yang terbiasa memindahkan data langsung dari flashdisk atau perangkat lain, absennya OTG benar-benar mengganggu workflow dokumentasi dan arsip. Harapan saya, Transsion Holding (Infinix) mau mendengar suara konsumen dan menghadirkan kembali fitur OTG di seri berikutnya.

Kalau OTG bukan kebutuhan utama, maka Smart 10 Plus tetap layak dipinang sebagai salah satu pilihan terbaik di segmen entry-level. Tapi kalau OTG adalah bagian penting dari keseharian Anda, maka inilah satu-satunya deal breaker yang harus dipertimbangkan.